Saya pertama kali naik pesawat umur 20 tahun. d^^b, tidak patut dibanggakan sebenarnya bila dibandingkan dengan teman-teman semasa SD yang sering pamer baru saja naik pesawat. Hehe.
Tepatnya 08-08-09, hari Sabtu, berangkat sendiri ke ibukota, Jakarta. (Terakhir saya ke Jakarta itu umur 11 tahun, bareng ibu dalam rombongan Muktamar Muhammadiyah, itupun naik Bus Padang-Jakarta, perjalanan 3 hari 2 malam yang disambung dengan Kapal Peri yang Allahurabbi panas banget di dalam sana. Huhuy… #pengenaikperilagi).
Kebayang deh, sendirian, perempuan, katrok, berangkat shubuh-shubuh, nggak ngerti Jakarta, takut ke ibukota, yang kebayang Jakarta itu macam-macam dan kejam ;p, dan ketakutan paling utama karena nggak pernah naik pesawat. ;D
Ibu sempat nggak kasih izin karena saya harus sendirian. Takut ilang anak semata wayangnya. Tapi ini tiket udah ada, dikasi orang, gratis pula. Tentunya, kata Ayah, kita harus ‘berterima kasih dengan tidak menyia-nyiakan’.
Ya, Alhamdulillah tiket pergi pulang naik pesawat yang pertama kali itu gratis. Bahkan salah satunya VIP. ^^. Alhamdulillah. Jadi ceritanya sebelum berangkat dapat dana perjalanan untuk dua orang, namun kami saat itu ngotot pergi bertiga. Karena bertiga ini saling melengkapi, jika salah satu gag ada, kami bakal ilang. Hehe. Alhasil dana dari kampus dibagi tiga, cukup untuk tiket pesawat pulang dan registrasi acara. (sayangnya dua orang lainnya -Icha dan Sevil- dapat tiket yang jadwalnya beda dengan saya).
Darimanakah tiket perginya? Alhamdulillah tiket itu diberikan gratis oleh Padang Ekspres Group sebagai bentuk apresiasi pimpinan P’Mails dan Padang Ekspres terhadap salah satu “anak didik”nya… Alhamdulillah dapat tiket VIP.
Satu rumah sibuk dengan keberangkatan pertama saya ini. Saya pun bingung. Travel bag pinjam saudara, semua peralatan baru : handuk baru, baju baru, kaus kaki baru, sepatu baru, sabun baru, sikat gigi baru, parfum baru, minyak telon baru, semuanya baru. #katrokbangetdehsaya.
Pagi-pagi buta jam 3 udah bangun. Mandi dan siap-siap. Jam 4 shubuh berangkat ke Bandara. Jadi ceritanya saya take off jam 6. Perjaanan rumah-bandara itu rada 1,5 jam-an. Jadi harus pagi-pagi banget. Diantar oleh Ayah yang taksinya udah dipesen sejak semalamnya. ^^ #ayahkusayangterimakasih.
Nah, berhubung VIP, saya dijemput oleh “sang travel agency” langganan Padek. #OmIn,wahudahlamagagketemukita,Om^^. Oleh Om In saya diajarin semuanya, mulai dari masuk- liatin tiket - bagasi - check in - taruh bagasi - naik ke lantai 2 - bayar airport tax - liatin tiket lagi - bagasi lagi - dan duduk.
Alhamdulillah (lagi) dapat duduk di Executive Lounge-a, kantornya Om In. Berhubung saya ini katrok, padahal boleh bebas icip ini icip itu, saya nahan selera, waktu itu mikirnya “pasti bayar dan mahal”. Berhubung irit, pelit, tepatnya gag ada duit, saya gag memilih menyentuh makanan, hanya menyentuh majalah dan toilet.
Ehe„ toilet? Ya, di exe lounge itu saya milih ke toilet, mushalla, sholat sunnah, sholat shubuh (kalau dari Padang, pesawat jam 6, berarti sholat shubuhnya di bandara), dan banyak-banyak berdoa supaya saya selamat selama perjalanan. Pokoknya kaku, kagok, and keringat dingin. Antara penasaran dan takut mau naik pesawat.. Hahaha.
Jujur saya nggak ngerti kapan saya harus masuk ke dalam pesawat, maka saya titip pesan sama Om In kalau udah waktunya, kasi tahu ya Om…. Kelihatan banget katroknya. Akhirnya Om In kasi kode, trus nunjukin bagaimana di dalam pesawat nanti, coz Om In nggak bisa anter sampai ke dalam pesawat. Saya manggut-manggut. Dan masuk.
Nah, untuk apa pramugari? Untuk ditanya-tanyai. Begitu masuk langsung nyamperin pramugari, minta anter. Hehe. Eh, gag taunya duduk paling depan. Duduk di tengah, di sebelah kanan bapak-bapak gendut pake jas rapi, di sebelah kiri bapak-bapak pake jas rapi n gendut juga. Saya matut diri : kecil, kurus, nggak rapi, make kemeja kuliah, gelang-gelang nggak jelas di tangan kiri, jam 20an ribu di tangan kanan, celanan jeans yg udah jelek banget jahitan bawahnya karena sering keinjak-injak, dan sepatu 30an ribu. :p Haha, ya udah cuek aja deh. Anggap aja traveller cuek yang udah biasa naik pesawat. Hahay.
Saya sapa kanan kiri, basa basi, ada acara apa Pak ke jakarta? #Hahah,sokbangetsaya. Ternyata yang satu anggota DPR salah satu daerah di Sumbar, yang satu lagi pebisnis yang ada proyek di Jakarta. Pas saya ditanya, adek ada acara apa? Saya jawab padat, “Saya Mahasiswa”. Terus sambung dengan, “saya pertama kali naik pesawat ini, Pak”. #Aiih,akhirnyajujur #demikeselamatanduniakhirat
Saya cuek aja cerita tentang kampus, tentang acara yang akan dikunjungi, serta tentang dua teman saya yang beda jadwal pesawat. Dua Bapak itu manggut-manggut.
Tahukah, saat pesawat take off, saya berekspresi seperti naik Roll Coaster. (Pejemin mata, pegang kursi erat-erat -sebenernya nggak perlu pegang kursi erat-erat-, jantung dag dig dug). Well, walaupun sebelumnya saya nggak pernah naik Roll Coaster, minimal saya pernah dulu banget naik Halilintar. Hahah.
Sebelum pesawat benar-benar terbang lurus, dua bapak di sebelah saya udah tidur aja. #kecewa,sayamaungobrolPak… Ya udah, begitu keadaan udah aman, lampu udah dinyalakan. Dan ada Bapak-bapak yang jalan-jalan, kayaknya ke toilet. Saya mikir, gimana ya rasanya, jalan di dalam pesawat, n gimana sih rupa toilet pesawat ituh. Wkwkwk. Saya penasaran tapi nggak mau saat itu, nanti-nanti aja deh saya ke toilet pesawat.
Berhubung dua Bapak tadi tidur, saya sibukkan diri dengan baca-baca, melahap semua apapun yang bisa dibaca disana, sambil dalam hati nggak henti zikir. Setelah apa yang dibaca terasa nggak menarik -lebih menarik baca peringatan mematikan handphone, hahah- dan saya sedikit pusing. Maka saya niru-niru dua Bapak di sebelah saya. Tidur. Tepatnya memejamkan mata.
Dan itulah yang terjadi selama di dalam pesawat, sekitar 1,5 jam merem tapi nggak tidur, tubuh tegang, dan telinga aware terhadap setiap bunyi yang ada. Saya baru buka mata lagi saat dari speaker terdengar bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Soekarno Hatta.
Itu 1,5 jam serasa setahun. Ditungguin banget… Merem-melek liat jam - merem - melek liat jam - bgts (begitu seterusnya,-red) ;p
#Aaaah, parah.
Tahukah dalam rangka apa perjalanan pertama ini? Ya, ke Jakarta saat itu adalah untuk menghadiri Rakernas VII ISMKMI. Dan betapa nama itu ISMKMI melekat kepada saya hingga sekarang, ia yang membawa saya terbang, keliling kemana-mana, sekaligus awal dari dimulainya perjalanan dari Bandara ke Bandara ini. #L6huruf
The Last 4 this session, thanks a lot buat teman-teman yang - setelah itu - bareng-bareng berangkat dari BIM :
Ade Somantri yang juga berangkat shubuh-shubuh, diantar Jendra ke rumah, dari rumah nge-taksi ke BIM, berangkat ke Jakarta utk Workshop TCN.
Elvira Yunita, Shara Jeane, + Andrika Ariyoni yang mendadak muncul di BIM, menikmati perjalanan ke Medan di tengah cuaca buruk, ngeri banget di pesawatnya.
Teman-teman peserta Stuband yang 30an orang, itu satu pesawat heboh dengan kegejean anak-anak yang bandel nggak duduk sesuai nomer tiket. Hahay.
Taufik Hidayat dalam perjalanan menuju Surabaya, eh si Taufik pake sendal jepit.., d^^b Jempooll…. Terakhir saya belajar, naik pesawat sebenernya sama aja ama naik angkot. Dulunya saya aja yang katrok. Takut dibuang ditengah jalan gara-gara baju lusuh n sepatu lusuh. Haha. #katroksumpah
Judulnya lumayan menggelikan dan bikin penasaran (pasti pengen baca sampai akhir kan…? *kepedean…). Tapi saya harus kasih tau dari awal bahwa ini hanyalah keisengan belaka. Tapi meskipun iseng, saya tetap berusaha untuk realistis dan berdasarkan data dan pengalaman di lapangan
Walaupun sejatinya kita kuliah bukan karena mengharapkan IPK, kondisi hari ini masih mendewakan IPK sebagai tolok ukur keberhasilan akademik seseorang dalam perkuliahan. Hal ini sepertinya adalah hal yang wajar, karena memang bukti otentik hasil perkuliahan kita ada di lembaran kertas yang kita sebut “transkrip akademik”. Meskipun demikian, sepertinya kurang fair juga ketika ada kategorisasi IPK di bawah 3 dengan IPK di atas 3, sebab sebenarnya indeks prestasi tersebut sudah punya pengkategorian yang selain mempertimbangkan score, juga mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai score tersebut, yaitu Cum Laude, Sangat Memuaskan, Memuaskan yang dicetak tebal pada lembaran transkrip tersebut. Misalnya seseorang yang IPK-nya 3,3 ternyata menamatkan kuliahnya lebih dari 6 tahun (nah lho…?), maka ia dikategorikan lulus dengan predikat memuaskan (bukan sangat memuaskan). Namun, saat ini kita harus menyimpulkan bahwa, bagaimanapun, memiliki indeks prestasi yang lebih tinggi adalah lebih baik daripada terus mengkampanyekan bahwa “IPK itu bukan segalanya”.
Sejauh ini, aktivitas berorganisasi masih dinilai sebagai suatu aktivitas yang menjadi tolok ukur dalam beberapa kemampuan pada seorang lulusan perguruan tinggi. Seseorang yang berpengalaman dalam berorganisasi (bahkan beberapa jenis organisasi) biasanya lebih disukai dalam seleksi pekerjaan atau aplikasi lainnya. Sarjana yang punya pengalaman berorganisasi biasanya adalah sarjana yang dinilai punya kemampuan kepemimpinan dan manajerial yang relatif lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak berorganisasi. Orang yang berorganisasi juga dinilai mampu memaksimalkan ketersediaan waktu yang sama-sama 24 jam sehari bagi setiap orang dengan kegiatan yang optimal. Dalam hal ini, ada semacam guyonan yang mengkategorikan mahasiswa menjadi 3 kelompok *silahkan didefenisikan sendiri:
Menjadi seorang mahasiswa berarti berada di antara kumpulan orang-orang pintar dengan daya saing yang bervariasi. Bahkan, sebagian di antara teman-teman kita di kelas sebenarnya adalah siswa berprestasi ketika di SMA, misalnya menjuarai olimpiade bidang studi tingkat kota atau provinsi, juara story telling, lomba pidato, dan lainnya. Ternyata, kampus mempunyai peluang berprestasi yang jauh lebih banyak dengan frekuensi yang lebih tinggi. Bayangkan bahwa dalam setahun saja ada beberapa ajang prestasi yang tersedia di kampus dan siap untuk dicoba, baik tingkat kampus bahkan sampai ke tingkat nasional dan internasional, misalnya:
Mempunyai banyak teman dan jaringan boleh jadi adalah salah satu tujuan kuliah. Mungkin tidak ada yang salah dengan hal ini, karena memang proses berteman adalah suatu hal yang penting dalam memunculkan dinamika hidup sebagai mahasiswa. Sebagai contoh, dalam hal job seeking, kita bisa mendapatkan informasi yang komprehensif dari teman sewaktu kuliah tentang suatu lowongan kerja yang sebenarnya lebih baik untuk dirahasiakan untuk memperbesar peluang. Atau mungkin boleh jadi juga sedikit “nepoteisme” dari teman sama kuliah yang sudah terlebih dahulu mendapat pekerjaan atau bahkan punya jabatan. Hal ini hanyalah contoh kecil tentang betapa berharganya seorang teman. Bahkan dalam suatu kata mutiara, disebutkan bahwa
If we see the rapid changes of our global world, we will realize that the need of English is increasing time by time. Kebutuhan akan bahasa Inggris tidak hanya untuk dunia kerja, tetapi juga untuk dunia pelajar itu sendiri. Betapa banyak buku-buku pelajaran yang semestinya bisa kita pahami, namun terhalang hanya karena “bukunya belum ditranslate ke bahasa Indonesia”. Jika tidak ditindaklanjuti, penyesalan yang satu ini sepertinya akan menjadi penyesalan yang senantiasa eksis ketika mahasiswa mulai menyandang gelar alumni. Betapa tidak, kebutuhan akan kemampuan bahasa Inggris saat ini menjadi semakin tinggi dengan tingkatan yang semakin tinggi pula. Seharusnya, 4 5 tahun kuliah bisa kita optimalkan untuk belajar bahasa Inggris (walaupun 6 tahun sebelumnya di SMP dan SMA kita juga sudah mempelajari bahasa Inggris). Yang kita butuhkan adalah teman, kita butuh teman untuk belajar dan kita butuh fasilitator untuk belajar. English club adalah salah satu pilihan yang cukup diminati untuk mengatasi masalah ini.
Kuliah di program studi non-komputer dan non-teknik bukan berarti serta-merta menjadikan komputer sebagai barang haram untuk didalami. Memiliki beberapa keahlian yang berhubungan dengan komputer dinilai cukup menjanjikan baik sebagai pekerjaan maupun sebagai pekerjaan sampingan. Selain untuk orientasi kerja, komputer juga menjanjikan joy and fun sehingga banyak juga mahasiswa yang tergila-gila dengan komputer (*kalo yang sampai gila seperti ini tidak disarankan untuk dicontoh 
Selama kuliah, sebenarnya kita bisa “mengumpulkan” puluhan sertifikat seminar, training dan pelatihan yang sangat sering dilaksanakan oleh kampus. Mempunyai banyak sertifikat dinilai dapat mempromosikan pandangan orang lain terhadap kemampuan dan kepribadian seseorang. Rasanya ada perasaan yang gimanaa gitu ketika kita punya curriculum vitae yang satu halaman saja tidak cukup untuk menampung daftarseminars and trainings yang pernah diikuti. Dengan panjangnya daftar tersebut biasanya akan muncul penilaian bahwa yang bersangkutan adalah orang yang berkompeten, paham, dan care terhadap apa-apa yang dijelaskan dalam masing-masing sertifikatnya.






