Saya pertama kali naik pesawat umur 20 tahun. d^^b, tidak patut dibanggakan sebenarnya bila dibandingkan dengan teman-teman semasa SD yang sering pamer baru saja naik pesawat. Hehe. 
Tepatnya 08-08-09, hari Sabtu, berangkat sendiri ke ibukota, Jakarta. (Terakhir saya ke Jakarta itu umur 11 tahun, bareng ibu dalam rombongan Muktamar Muhammadiyah, itupun naik Bus Padang-Jakarta, perjalanan 3 hari 2 malam yang disambung dengan Kapal Peri yang Allahurabbi panas banget di dalam sana. Huhuy… #pengenaikperilagi).
Kebayang deh, sendirian, perempuan, katrok, berangkat shubuh-shubuh, nggak ngerti Jakarta, takut ke ibukota, yang kebayang Jakarta itu macam-macam dan kejam ;p, dan ketakutan paling utama karena nggak pernah naik pesawat. ;D
Ibu sempat nggak kasih izin karena saya harus sendirian. Takut ilang anak semata wayangnya. Tapi ini tiket udah ada, dikasi orang, gratis pula. Tentunya, kata Ayah, kita harus ‘berterima kasih dengan tidak menyia-nyiakan’.
Ya, Alhamdulillah tiket pergi pulang naik pesawat yang pertama kali itu gratis. Bahkan salah satunya VIP. ^^. Alhamdulillah. Jadi ceritanya sebelum berangkat dapat dana perjalanan untuk dua orang, namun kami saat itu ngotot pergi bertiga. Karena bertiga ini saling melengkapi, jika salah satu gag ada, kami bakal ilang. Hehe. Alhasil dana dari kampus dibagi tiga, cukup untuk tiket pesawat pulang dan registrasi acara. (sayangnya dua orang lainnya -Icha dan Sevil- dapat tiket yang jadwalnya beda dengan saya).
Darimanakah tiket perginya? Alhamdulillah tiket itu diberikan gratis oleh Padang Ekspres Group sebagai bentuk apresiasi pimpinan P’Mails dan Padang Ekspres terhadap salah satu “anak didik”nya… Alhamdulillah dapat tiket VIP.
Satu rumah sibuk dengan keberangkatan pertama saya ini. Saya pun bingung. Travel bag pinjam saudara, semua peralatan baru : handuk baru, baju baru, kaus kaki baru, sepatu baru, sabun baru, sikat gigi baru, parfum baru, minyak telon baru, semuanya baru. #katrokbangetdehsaya.
Pagi-pagi buta jam 3 udah bangun. Mandi dan siap-siap. Jam 4 shubuh berangkat ke Bandara. Jadi ceritanya saya take off jam 6. Perjaanan rumah-bandara itu rada 1,5 jam-an. Jadi harus pagi-pagi banget. Diantar oleh Ayah yang taksinya udah dipesen sejak semalamnya. ^^ #ayahkusayangterimakasih.
Nah, berhubung VIP, saya dijemput oleh “sang travel agency” langganan Padek. #OmIn,wahudahlamagagketemukita,Om^^. Oleh Om In saya diajarin semuanya, mulai dari masuk- liatin tiket - bagasi - check in - taruh bagasi - naik ke lantai 2 - bayar airport tax - liatin tiket lagi - bagasi lagi - dan duduk.
Alhamdulillah (lagi) dapat duduk di Executive Lounge-a, kantornya Om In. Berhubung saya ini katrok, padahal boleh bebas icip ini icip itu, saya nahan selera, waktu itu mikirnya “pasti bayar dan mahal”. Berhubung irit, pelit, tepatnya gag ada duit, saya gag memilih menyentuh makanan, hanya menyentuh majalah dan toilet.
Ehe„ toilet? Ya, di exe lounge itu saya milih ke toilet, mushalla, sholat sunnah, sholat shubuh (kalau dari Padang, pesawat jam 6, berarti sholat shubuhnya di bandara), dan banyak-banyak berdoa supaya saya selamat selama perjalanan. Pokoknya kaku, kagok, and keringat dingin. Antara penasaran dan takut mau naik pesawat.. Hahaha.
Jujur saya nggak ngerti kapan saya harus masuk ke dalam pesawat, maka saya titip pesan sama Om In kalau udah waktunya, kasi tahu ya Om…. Kelihatan banget katroknya. Akhirnya Om In kasi kode, trus nunjukin bagaimana di dalam pesawat nanti, coz Om In nggak bisa anter sampai ke dalam pesawat. Saya manggut-manggut. Dan masuk.
Nah, untuk apa pramugari? Untuk ditanya-tanyai. Begitu masuk langsung nyamperin pramugari, minta anter. Hehe. Eh, gag taunya duduk paling depan. Duduk di tengah, di sebelah kanan bapak-bapak gendut pake jas rapi, di sebelah kiri bapak-bapak pake jas rapi n gendut juga. Saya matut diri : kecil, kurus, nggak rapi, make kemeja kuliah, gelang-gelang nggak jelas di tangan kiri, jam 20an ribu di tangan kanan, celanan jeans yg udah jelek banget jahitan bawahnya karena sering keinjak-injak, dan sepatu 30an ribu. :p Haha, ya udah cuek aja deh. Anggap aja traveller cuek yang udah biasa naik pesawat. Hahay.
Saya sapa kanan kiri, basa basi, ada acara apa Pak ke jakarta? #Hahah,sokbangetsaya. Ternyata yang satu anggota DPR salah satu daerah di Sumbar, yang satu lagi pebisnis yang ada proyek di Jakarta. Pas saya ditanya, adek ada acara apa? Saya jawab padat, “Saya Mahasiswa”. Terus sambung dengan, “saya pertama kali naik pesawat ini, Pak”. #Aiih,akhirnyajujur #demikeselamatanduniakhirat
Saya cuek aja cerita tentang kampus, tentang acara yang akan dikunjungi, serta tentang dua teman saya yang beda jadwal pesawat. Dua Bapak itu manggut-manggut.
Tahukah, saat pesawat take off, saya berekspresi seperti naik Roll Coaster. (Pejemin mata, pegang kursi erat-erat -sebenernya nggak perlu pegang kursi erat-erat-, jantung dag dig dug). Well, walaupun sebelumnya saya nggak pernah naik Roll Coaster, minimal saya pernah dulu banget naik Halilintar. Hahah.
Sebelum pesawat benar-benar terbang lurus, dua bapak di sebelah saya udah tidur aja. #kecewa,sayamaungobrolPak… Ya udah, begitu keadaan udah aman, lampu udah dinyalakan. Dan ada Bapak-bapak yang jalan-jalan, kayaknya ke toilet. Saya mikir, gimana ya rasanya, jalan di dalam pesawat, n gimana sih rupa toilet pesawat ituh. Wkwkwk. Saya penasaran tapi nggak mau saat itu, nanti-nanti aja deh saya ke toilet pesawat. 
Berhubung dua Bapak tadi tidur, saya sibukkan diri dengan baca-baca, melahap semua apapun yang bisa dibaca disana, sambil dalam hati nggak henti zikir. Setelah apa yang dibaca terasa nggak menarik -lebih menarik baca peringatan mematikan handphone, hahah- dan saya sedikit pusing. Maka saya niru-niru dua Bapak di sebelah saya. Tidur. Tepatnya memejamkan mata.
Dan itulah yang terjadi selama di dalam pesawat, sekitar 1,5 jam merem tapi nggak tidur, tubuh tegang, dan telinga aware terhadap setiap bunyi yang ada. Saya baru buka mata lagi saat dari speaker terdengar bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Soekarno Hatta.
Itu 1,5 jam serasa setahun. Ditungguin banget… Merem-melek liat jam - merem - melek liat jam - bgts (begitu seterusnya,-red) ;p
#Aaaah, parah.
Tahukah dalam rangka apa perjalanan pertama ini? Ya, ke Jakarta saat itu adalah untuk menghadiri Rakernas VII ISMKMI. Dan betapa nama itu ISMKMI melekat kepada saya hingga sekarang, ia yang membawa saya terbang, keliling kemana-mana, sekaligus awal dari dimulainya perjalanan dari Bandara ke Bandara ini.  #L6huruf
The Last 4 this session, thanks a lot buat teman-teman yang - setelah itu - bareng-bareng berangkat dari BIM : 
Ade Somantri yang juga berangkat shubuh-shubuh, diantar Jendra ke rumah, dari rumah nge-taksi ke BIM, berangkat ke Jakarta utk Workshop TCN.
Elvira Yunita, Shara Jeane, + Andrika Ariyoni yang mendadak muncul di BIM, menikmati perjalanan ke Medan di tengah cuaca buruk, ngeri banget di pesawatnya.
Teman-teman peserta Stuband yang 30an orang, itu satu pesawat heboh dengan kegejean anak-anak yang bandel nggak duduk sesuai nomer tiket. Hahay.
Taufik Hidayat dalam perjalanan menuju Surabaya, eh si Taufik pake sendal jepit.., d^^b Jempooll…. Terakhir saya belajar, naik pesawat sebenernya sama aja ama naik angkot. Dulunya saya aja yang katrok. Takut dibuang ditengah jalan gara-gara baju lusuh n sepatu lusuh. Haha. #katroksumpah

Saya pertama kali naik pesawat umur 20 tahun. d^^b, tidak patut dibanggakan sebenarnya bila dibandingkan dengan teman-teman semasa SD yang sering pamer baru saja naik pesawat. Hehe. 

Tepatnya 08-08-09, hari Sabtu, berangkat sendiri ke ibukota, Jakarta. (Terakhir saya ke Jakarta itu umur 11 tahun, bareng ibu dalam rombongan Muktamar Muhammadiyah, itupun naik Bus Padang-Jakarta, perjalanan 3 hari 2 malam yang disambung dengan Kapal Peri yang Allahurabbi panas banget di dalam sana. Huhuy… #pengenaikperilagi).

Kebayang deh, sendirian, perempuan, katrok, berangkat shubuh-shubuh, nggak ngerti Jakarta, takut ke ibukota, yang kebayang Jakarta itu macam-macam dan kejam ;p, dan ketakutan paling utama karena nggak pernah naik pesawat. ;D

Ibu sempat nggak kasih izin karena saya harus sendirian. Takut ilang anak semata wayangnya. Tapi ini tiket udah ada, dikasi orang, gratis pula. Tentunya, kata Ayah, kita harus ‘berterima kasih dengan tidak menyia-nyiakan’.

Ya, Alhamdulillah tiket pergi pulang naik pesawat yang pertama kali itu gratis. Bahkan salah satunya VIP. ^^. Alhamdulillah. Jadi ceritanya sebelum berangkat dapat dana perjalanan untuk dua orang, namun kami saat itu ngotot pergi bertiga. Karena bertiga ini saling melengkapi, jika salah satu gag ada, kami bakal ilang. Hehe. Alhasil dana dari kampus dibagi tiga, cukup untuk tiket pesawat pulang dan registrasi acara. (sayangnya dua orang lainnya -Icha dan Sevil- dapat tiket yang jadwalnya beda dengan saya).

Darimanakah tiket perginya? Alhamdulillah tiket itu diberikan gratis oleh Padang Ekspres Group sebagai bentuk apresiasi pimpinan P’Mails dan Padang Ekspres terhadap salah satu “anak didik”nya… Alhamdulillah dapat tiket VIP.

Satu rumah sibuk dengan keberangkatan pertama saya ini. Saya pun bingung. Travel bag pinjam saudara, semua peralatan baru : handuk baru, baju baru, kaus kaki baru, sepatu baru, sabun baru, sikat gigi baru, parfum baru, minyak telon baru, semuanya baru. #katrokbangetdehsaya.

Pagi-pagi buta jam 3 udah bangun. Mandi dan siap-siap. Jam 4 shubuh berangkat ke Bandara. Jadi ceritanya saya take off jam 6. Perjaanan rumah-bandara itu rada 1,5 jam-an. Jadi harus pagi-pagi banget. Diantar oleh Ayah yang taksinya udah dipesen sejak semalamnya. ^^ #ayahkusayangterimakasih.

Nah, berhubung VIP, saya dijemput oleh “sang travel agency” langganan Padek. #OmIn,wahudahlamagagketemukita,Om^^. Oleh Om In saya diajarin semuanya, mulai dari masuk- liatin tiket - bagasi - check in - taruh bagasi - naik ke lantai 2 - bayar airport tax - liatin tiket lagi - bagasi lagi - dan duduk.

Alhamdulillah (lagi) dapat duduk di Executive Lounge-a, kantornya Om In. Berhubung saya ini katrok, padahal boleh bebas icip ini icip itu, saya nahan selera, waktu itu mikirnya “pasti bayar dan mahal”. Berhubung irit, pelit, tepatnya gag ada duit, saya gag memilih menyentuh makanan, hanya menyentuh majalah dan toilet.

Ehe„ toilet? Ya, di exe lounge itu saya milih ke toilet, mushalla, sholat sunnah, sholat shubuh (kalau dari Padang, pesawat jam 6, berarti sholat shubuhnya di bandara), dan banyak-banyak berdoa supaya saya selamat selama perjalanan. Pokoknya kaku, kagok, and keringat dingin. Antara penasaran dan takut mau naik pesawat.. Hahaha.

Jujur saya nggak ngerti kapan saya harus masuk ke dalam pesawat, maka saya titip pesan sama Om In kalau udah waktunya, kasi tahu ya Om…. Kelihatan banget katroknya. Akhirnya Om In kasi kode, trus nunjukin bagaimana di dalam pesawat nanti, coz Om In nggak bisa anter sampai ke dalam pesawat. Saya manggut-manggut. Dan masuk.

Nah, untuk apa pramugari? Untuk ditanya-tanyai. Begitu masuk langsung nyamperin pramugari, minta anter. Hehe. Eh, gag taunya duduk paling depan. Duduk di tengah, di sebelah kanan bapak-bapak gendut pake jas rapi, di sebelah kiri bapak-bapak pake jas rapi n gendut juga. Saya matut diri : kecil, kurus, nggak rapi, make kemeja kuliah, gelang-gelang nggak jelas di tangan kiri, jam 20an ribu di tangan kanan, celanan jeans yg udah jelek banget jahitan bawahnya karena sering keinjak-injak, dan sepatu 30an ribu. :p Haha, ya udah cuek aja deh. Anggap aja traveller cuek yang udah biasa naik pesawat. Hahay.

Saya sapa kanan kiri, basa basi, ada acara apa Pak ke jakarta? #Hahah,sokbangetsaya. Ternyata yang satu anggota DPR salah satu daerah di Sumbar, yang satu lagi pebisnis yang ada proyek di Jakarta. Pas saya ditanya, adek ada acara apa? Saya jawab padat, “Saya Mahasiswa”. Terus sambung dengan, “saya pertama kali naik pesawat ini, Pak”. #Aiih,akhirnyajujur #demikeselamatanduniakhirat

Saya cuek aja cerita tentang kampus, tentang acara yang akan dikunjungi, serta tentang dua teman saya yang beda jadwal pesawat. Dua Bapak itu manggut-manggut.

Tahukah, saat pesawat take off, saya berekspresi seperti naik Roll Coaster. (Pejemin mata, pegang kursi erat-erat -sebenernya nggak perlu pegang kursi erat-erat-, jantung dag dig dug). Well, walaupun sebelumnya saya nggak pernah naik Roll Coaster, minimal saya pernah dulu banget naik Halilintar. Hahah.

Sebelum pesawat benar-benar terbang lurus, dua bapak di sebelah saya udah tidur aja. #kecewa,sayamaungobrolPak… Ya udah, begitu keadaan udah aman, lampu udah dinyalakan. Dan ada Bapak-bapak yang jalan-jalan, kayaknya ke toilet. Saya mikir, gimana ya rasanya, jalan di dalam pesawat, n gimana sih rupa toilet pesawat ituh. Wkwkwk. Saya penasaran tapi nggak mau saat itu, nanti-nanti aja deh saya ke toilet pesawat. 

Berhubung dua Bapak tadi tidur, saya sibukkan diri dengan baca-baca, melahap semua apapun yang bisa dibaca disana, sambil dalam hati nggak henti zikir. Setelah apa yang dibaca terasa nggak menarik -lebih menarik baca peringatan mematikan handphone, hahah- dan saya sedikit pusing. Maka saya niru-niru dua Bapak di sebelah saya. Tidur. Tepatnya memejamkan mata.

Dan itulah yang terjadi selama di dalam pesawat, sekitar 1,5 jam merem tapi nggak tidur, tubuh tegang, dan telinga aware terhadap setiap bunyi yang ada. Saya baru buka mata lagi saat dari speaker terdengar bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Soekarno Hatta.

Itu 1,5 jam serasa setahun. Ditungguin banget… Merem-melek liat jam - merem - melek liat jam - bgts (begitu seterusnya,-red) ;p

#Aaaah, parah.

Tahukah dalam rangka apa perjalanan pertama ini? Ya, ke Jakarta saat itu adalah untuk menghadiri Rakernas VII ISMKMI. Dan betapa nama itu ISMKMI melekat kepada saya hingga sekarang, ia yang membawa saya terbang, keliling kemana-mana, sekaligus awal dari dimulainya perjalanan dari Bandara ke Bandara ini.  #L6huruf

The Last 4 this session, thanks a lot buat teman-teman yang - setelah itu - bareng-bareng berangkat dari BIM : 

Ade Somantri yang juga berangkat shubuh-shubuh, diantar Jendra ke rumah, dari rumah nge-taksi ke BIM, berangkat ke Jakarta utk Workshop TCN.

Elvira Yunita, Shara Jeane, + Andrika Ariyoni yang mendadak muncul di BIM, menikmati perjalanan ke Medan di tengah cuaca buruk, ngeri banget di pesawatnya.

Teman-teman peserta Stuband yang 30an orang, itu satu pesawat heboh dengan kegejean anak-anak yang bandel nggak duduk sesuai nomer tiket. Hahay.

Taufik Hidayat dalam perjalanan menuju Surabaya, eh si Taufik pake sendal jepit.., d^^b Jempooll…. Terakhir saya belajar, naik pesawat sebenernya sama aja ama naik angkot. Dulunya saya aja yang katrok. Takut dibuang ditengah jalan gara-gara baju lusuh n sepatu lusuh. Haha. #katroksumpah

Sajak Suara

sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku

suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu : pemberontakkan!

sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang merayakan hartamu
ia ingin bicara
mengapa kaukokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?

sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ia yang mengajari aku untuk bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan

Sumpah Mahasiswa Indonesia

Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah

Bertanah Air Satu, Tanah Air tanpa Penindasan

Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah

Berbangsa Satu, Bangsa Cinta Keadilan

Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah

Berbahasa Satu, Bahasa Tanpa Kebohongan

Kumpulan Penyesalan Para Wisudawan

(dedicated to those who try to finish his/her undergraduate study)

original post : Yori Yuliandra


imageJudulnya lumayan menggelikan dan bikin penasaran (pasti pengen baca sampai akhir kan…? *kepedean…). Tapi saya harus kasih tau dari awal bahwa ini hanyalah keisengan belaka. Tapi meskipun iseng, saya tetap berusaha untuk realistis dan berdasarkan data dan pengalaman di lapangan :D

Pada dasarnya, empat atau lima tahun kuliah seharusnya cukup untuk beberapa hal, sekaligus. Dinamika yang ada di kampus merupakan suatu peluang yang sangat menguntungkan bagi siapa saja, terutama mahasiswa, untuk dapat mengaktualisasikan diri mereka dan mempercepat proses pematangan mereka. Kampus ibarat suatu laboratorium pengembangan diri mahasiswa yang sangat kompleks. Suatu labor yang siap untuk mereaksikan potensi-potensi yang ada dengan pereaksi-pereaksi yang sudah tersedia.

Diharapkan dengan membaca “kumpulan penyesalan para wisudawan” ini, kita bisa memanfaatkan dinamika yang ada dan waktu yang masih tersisa sebelum berhasil menamatkan perkuliahan. Berikut adalah beberapa penyesalan yang cukup populer disesalkan oleh fresh graduate dari kampus:

1. Menyesal karena IPK < 3,00  

imageWalaupun sejatinya kita kuliah bukan karena mengharapkan IPK, kondisi hari ini masih mendewakan IPK sebagai tolok ukur keberhasilan akademik seseorang dalam perkuliahan. Hal ini sepertinya adalah hal yang wajar, karena memang bukti otentik hasil perkuliahan kita ada di lembaran kertas yang kita sebut “transkrip akademik”. Meskipun demikian, sepertinya kurang fair juga ketika ada kategorisasi IPK di bawah 3 dengan IPK di atas 3, sebab sebenarnya indeks prestasi tersebut sudah punya pengkategorian yang selain mempertimbangkan score, juga mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai score tersebut, yaitu Cum Laude, Sangat Memuaskan, Memuaskan yang dicetak tebal pada lembaran transkrip tersebut. Misalnya seseorang yang IPK-nya 3,3 ternyata menamatkan kuliahnya lebih dari 6 tahun (nah lho…?), maka ia dikategorikan lulus dengan predikat memuaskan (bukan sangat memuaskan). Namun, saat ini kita harus menyimpulkan bahwa, bagaimanapun, memiliki indeks prestasi yang lebih tinggi adalah lebih baik daripada terus mengkampanyekan bahwa “IPK itu bukan segalanya”.

2. Menyesal karena tidak punya pengalaman organisasi selama kuliah

imageSejauh ini, aktivitas berorganisasi masih dinilai sebagai suatu aktivitas yang menjadi tolok ukur dalam beberapa kemampuan pada seorang lulusan perguruan tinggiSeseorang yang berpengalaman dalam berorganisasi (bahkan beberapa jenis organisasi) biasanya lebih disukai dalam seleksi pekerjaan atau aplikasi lainnya. Sarjana yang punya pengalaman berorganisasi biasanya adalah sarjana yang dinilai punya kemampuan kepemimpinan dan manajerial yang relatif lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak berorganisasi. Orang yang berorganisasi juga dinilai mampu memaksimalkan ketersediaan waktu yang sama-sama 24 jam sehari bagi setiap orang dengan kegiatan yang optimal. Dalam hal ini, ada semacam guyonan yang mengkategorikan mahasiswa menjadi 3 kelompok *silahkan didefenisikan sendiri:

  • mahasiswa kupu-kupu: kuliah pulang kuliah pulang
  • mahasiswa kura-kura: kuliah rapat kuliah rapat
  • mahasiswa kunang-kunang: kuliah nangkring kuliah nangkring

3. Menyesal karena tidak punya prestasi selama kuliah

imageMenjadi seorang mahasiswa berarti berada di antara kumpulan orang-orang pintar dengan daya saing yang bervariasi. Bahkan, sebagian di antara teman-teman kita di kelas sebenarnya adalah siswa berprestasi ketika di SMA, misalnya menjuarai olimpiade bidang studi tingkat kota atau provinsi, juara story telling, lomba pidato, dan lainnya. Ternyata, kampus mempunyai peluang berprestasi yang jauh lebih banyak dengan frekuensi yang lebih tinggi. Bayangkan  bahwa dalam setahun saja ada beberapa ajang prestasi yang tersedia di kampus dan siap untuk dicoba, baik tingkat kampus bahkan sampai ke tingkat nasional dan internasional, misalnya:

  • Ajang mahasiswa berprestasi
  • Best student award
  • Bintang aktivis kampus
  • Anugerah Universitas Andalas dari Dewan Penyantun
  • Program Kreativitas Mahasiswa – PIMNAS
  • English debate contest
  • Musabaqah Tilawati Qur’an yang terbagi menjadi beberapa cabang
  • Lomba pemikiran kritis mahasiswa
  • Lomba penelitian ilmiah tingkat internasional (saya punya teman yang berhasil meraih juara II tingkat internasional dalam Mondialogo Engineering Award 2009, *that’s really great)

dan mungkin masih sangat banyak jenis ajang mahasiswa berprestasi. Dari sekian banyak peluang yang ada, rasanya kita perlu sedikit bersedih jika tidak pernah punya kesempatan untuk berkompetisi menguji kemampuan diri dan daya saing. Meskipun menjadi pemenang sepertinya agak sulit dan berliku, menjadi peserta dan kontestan sepertinya sangat mudah dan terbuka peluangnya buat siapa saja.

4. Menyesal karena tidak punya banyak teman selama kuliah

imageMempunyai banyak teman dan jaringan boleh jadi adalah salah satu tujuan kuliah. Mungkin tidak ada yang salah dengan hal ini, karena memang proses berteman adalah suatu hal yang penting dalam memunculkan dinamika hidup sebagai mahasiswa. Sebagai contoh, dalam hal job seeking, kita bisa mendapatkan informasi yang komprehensif dari teman sewaktu kuliah tentang suatu lowongan kerja yang sebenarnya lebih baik untuk dirahasiakan untuk memperbesar peluang. Atau mungkin boleh jadi juga sedikit “nepoteisme” dari teman sama kuliah yang sudah terlebih dahulu mendapat pekerjaan atau bahkan punya jabatan. Hal ini hanyalah contoh kecil tentang betapa berharganya seorang teman. Bahkan dalam suatu kata mutiara, disebutkan bahwa

Teman adalah seseorang yang bersama dirinya kau bangga menjadi dirimu

Memilih teman berarti memilih masa depan. Maksudnya untuk berteman dan bersahabat, kita memang harus selektif. Namun untuk berkenalan dan ber-relasi, kita seharusnya tidak mengekang diri.

5. Menyesal karena tidak mempelajari bahasa Inggris lebih intens selama kuliah

imageIf we see the rapid changes of our global world, we will realize that the need of English is increasing time by time. Kebutuhan akan bahasa Inggris tidak hanya untuk dunia kerja, tetapi juga untuk dunia pelajar itu sendiri. Betapa banyak buku-buku pelajaran yang semestinya bisa kita pahami, namun terhalang hanya karena “bukunya belum ditranslate ke bahasa Indonesia”. Jika tidak ditindaklanjuti, penyesalan yang satu ini sepertinya akan menjadi penyesalan yang senantiasa eksis ketika mahasiswa mulai menyandang gelar alumni. Betapa tidak, kebutuhan akan kemampuan bahasa Inggris saat ini menjadi semakin tinggi dengan tingkatan yang semakin tinggi pula. Seharusnya, 4 5 tahun kuliah bisa kita optimalkan untuk belajar bahasa Inggris (walaupun 6 tahun sebelumnya di SMP dan SMA kita juga sudah mempelajari bahasa Inggris). Yang kita butuhkan adalah teman, kita butuh teman untuk belajar dan kita butuh fasilitator untuk belajar. English club adalah salah satu pilihan yang cukup diminati untuk mengatasi masalah ini.

6. Menyesal karena tidak tau banyak tentang komputer

imageKuliah di program studi non-komputer dan non-teknik bukan berarti serta-merta menjadikan komputer sebagai barang haram untuk didalami. Memiliki beberapa keahlian yang berhubungan dengan komputer dinilai cukup menjanjikan baik sebagai pekerjaan maupun sebagai pekerjaan sampingan. Selain untuk orientasi kerja, komputer juga menjanjikan joy and fun sehingga banyak juga mahasiswa yang tergila-gila dengan komputer (*kalo yang sampai gila seperti ini tidak disarankan untuk dicontoh :) . Saya bahkan punya kenalan yang bertitel sarjana sastra namun bekerja di sebuah perusahaan desain konstruksi dan arsitektur karena mempunyai skill yang mumpuni dalam 3D Max yang awalnya cuma berawal dari hobi.

Disamping itu, sebenarnya komputer itu sendiri sangat berpotensi untuk mendukung akademik mahasiswa ketika mereka tau banyak tentang komputer dan pemanfaatannya untuk penunjang akademik mereka. Proses pembelajaran dapat menjadi lebih cepat atau bahkan menjadi lebih menarik dengan pemanfaatan fasilitas komputer. Atau paling tidak ketika komputer mereka sedikit bermasalah atau terinfeksi virus, mereka yang cukup care dengan komputer paling tidak akan berusaha untuk mengota-atiknya sendiri *kemudian kalo tambah parah baru diserahkan ke ahlinya.

7. Menyesal karena tidak pernah naik pesawat “gratis” selama kuliah

imageYang ini mungkin sedikit ngawur, tetapi butuh perhatian juga. Adalah suatu prestise tersendiri jika selama kuliah kita pernah didelegasikan sebagai wakil kampus untuk kegiatan-kegiatan kemahasiswaan berskala nasional atau internasional. Biasanya kesempatan ini sering menghampiri mereka yang aktif dalam lembaga kemahasiswaan yang punya jaringan nasional dan punya pertemuan tahunan semisal musyawarah nasional, seminar dan lokakarya nasional, temu BEM se-Indonesia, dan lain sebagainya. Disamping itu, kesempatan untuk terbang gratis ini juga dapat singgah kepada mereka yang mengikuti lomba tingkat nasional seperti PIMNAS dan MTQ.

Sebenarnya kita tidak perlu ngarep.com untuk kemudian dipilih oleh pejabat yang berwenang (ketua lembaga mahasiswa atau pihak dekanat) sebagai delegasi kampus. Satu-satunya yang perlu kita lakukan adalah memposisikan diri kita sebagai orang yang layak untuk dipilih dalam hal ini. That’s all.

8. Tidak punya cukup sertifikat selama kuliah

imageSelama kuliah, sebenarnya kita bisa “mengumpulkan” puluhan sertifikat seminar, training dan pelatihan yang sangat sering dilaksanakan oleh kampus. Mempunyai banyak sertifikat dinilai dapat mempromosikan pandangan orang lain terhadap kemampuan dan kepribadian seseorang. Rasanya ada perasaan yang gimanaa gitu ketika kita punya curriculum vitae yang satu halaman saja tidak cukup untuk menampung daftarseminars and trainings yang pernah diikuti. Dengan panjangnya daftar tersebut biasanya akan muncul penilaian bahwa yang bersangkutan adalah orang yang berkompeten, paham, dan care terhadap apa-apa yang dijelaskan dalam masing-masing sertifikatnya.

Fenomena ini pada dasarnya tidaklah salah. Setiap mahasiswa memang sejatinya adalah orang yang senantiasa berusaha untuk mengaktualisasikan diri mereka, dan mengikuti berbagai seminar dan pelatihan boleh jadi adalah manifestasinya. Namun hal ini menjadi agak kurang tepat ketika proses aktualisasi diri ini dilakukan dengan certificate oriented supaya mendapat sertifikat. Padahal sebenarnya sertifikat tersebut hakikatnya hanyalah bukti otentik bahwa diri kita sudah memiliki kriteria sebagaimana yang dijelaskan oleh sertifikat tersebut. Sertifikat seharusnya hanyalah bukti tertulis yang menguatkan bukti dalam diri kita bahwa kita memang punya kualifikasi tersebut. Hal ini menjadi lebih salah ketika mengikuti kegiatan dengan malas-malasan dengan hanya duduk dan diam tak karuan, yang penting hadir dan dapat sertifikat. Atau menjadi sangat salah ketika membayar biaya registrasi namun tidak mengikuti proses pelatihan kemudian meminta sertifikat kepada panitia. Nah lho…

9. Penyesalan lainnya (silahkan ditambahkan)

Mudah-mudahan dengan kumpulan penyesalan ini, semakin memacu para mahasiswa yang masih sedang kuliah untuk senantiasa mengisi kekurangan-kekurangan yang ada dengan menefektifkan waktu yang masih tersisa.

Selamat mencoba.

+++++++++++++++++++++++++

+++++++++++++++++++++++++

Thanks to Yori Yuliandra

I’m Yours ^^

:) SMILE

:) SMILE

possessyourheart:

love this quote..from one of the best books i’ve ever read. “the perks of being a wallflower.” read it. you’ll love it.

(via 07-22am-deactivated20101009)

infinite&#8230;

possessyourheart:

love this quote..from one of the best books i’ve ever read. “the perks of being a wallflower.” read it. you’ll love it.

(via 07-22am-deactivated20101009)

infinite…

spybarbie:

how i’m feeling right about now. :)


bahwa apapun dalam cinta ini, yang terpenting adalah komunikasi.
Let&#8217;s keep in touch each other&#8230;.

spybarbie:

how i’m feeling right about now. :)

bahwa apapun dalam cinta ini, yang terpenting adalah komunikasi.

Let’s keep in touch each other….

I’M YOURS

Indonesia :

Kami  adalah  milik kalian wahai saudara-saudara tercinta.

Sesaat pun kami tak akan pernah menjadi musuh kalian.

English :

We are yours, O beloved brethren.

We will never be tour enemy.

Jawa :

Aku iki nduwekmu wahai sedulur-sedulurku setrisno.

Sedelawae aku ora bakal dadi musuhmu.

Minang :

Kami-kami ko punyo kalian juo nyo dunsanak-dunsanak nan tacinto.
Saketek se ndak ka pernah kami ka jadi lawan kalian.

Bugis :

Idi maneng mi sulesurekku upoji

Sewawektu idi maneng de mancaji balimmu.

Banjar :

Kami seberatan ni kapunyaan pian-pian wahai dingsanak -dingsanak tercinta.

Kami seberataan kada suah bemusuhan lawan pian-pian.

Aceh :

Kamoe adalah ata awak drone wahai shedara lon metuah.

Pajan manteng kamoe hana pernah jet ke musoh gata.

Nias :

Ya’aga fefu okhota mi fefu talifuso ni’omasi ogu.

Lo’o gamoi tobali lawa mi ndra’aga.

Samawa :

Kami ta nene baeng na saudara balong e.

Engka kadu kami dadi musuh nene.

Kaili :

Kami adalah pue nu kamiu poro sampesuvuku ni potove.

Sakodi mpu kami rai majadi musuh kamiu poro..

Belanda :

Wij behoren tot jullie, o geliefde broeders.

Het ene moment ook zullen we nooit worden de vijand van jullie.

Kasih Sayang sebagai Idealisme Kami

Betapa inginnya kami agar umat ini mengetahui

bahwa mereka lebih kami cintai dari  pada  diri  kami  sendiri.  

Kami  berbangga  ketika  jiwa-jiwa  kami  gugur  

sebagai penebus  bagi  kehoramatan  mereka,

jika  memang  tebusan  itu  yang  diperlukan.  

Atau menjadi  cita  mereka,  

jika  memang  itu  harga  yang  harus  dibayar.  

Tiada  sesuatu  yang membuat kami bersikap seperti ini

selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami,

mengusai  perasaan  kami,  

memeras  habis  air  mata  kami,  

dan  mencabut  rasa  ingin  tidur

dari pelupuk mata kami.

Betapa berat rasa di hati ketika kami

menyaksikan bencana yang mencabik-cabik  umat  ini,  

sementara  kita  hanya  sanggup  menyerah  pada  kehinaan  

dan pasrah oleh keputusasaan.

Sungguh, kami berbuat di jalan Allah

untuk kemaslahatan seluruh manusia,

lebih banyak  dari  apa  yang  kami  lakukan

untuk  kepentingan  diri  kami.  

Kami  adalah  milik kalian wahai saudara-saudara tercinta.

Sesaat pun kami tak akan pernah menjadi musuh kalian.

RPIM-Hasan Al-Bana

source : http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150262510754614

Affection as Our Idealism

How eager we are makes the mankind knows

that we love them more than ourselves.

We will be proud when our souls will be fall

as ransoms for their esteem

if the compensation is really needed.

It becomes the price for the existance of glory,

honor and the ralization of their ideals

if it is really the price which must be paid.

There is nothing which makes us have a certain attitude this

but love which moves our hearts,

dominates our feelings,

weeps our tears entirely and

kills our sleepy.

It was so sad to witness calamities which befell the mandkind,

while we could onl give in to contempt and submit to despair.

What we do in the way of Allah for all mankind is

more than that for ourselves.

We are yours, O beloved brethren.

We will never be tour enemy.

(Treatise on the movement of Muslim Brotherhood)


(diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh

Angyun Abraham, -Direktur Litbang ISMKMI 2011, -Korwil II ISMKMI 2010)

Welas Asih Minongko Kapitadosanku

Saibo kepengine aku supaya ummat iki ngerteni

yen dewee lewih aku tresnani tinimbang awake dewe.

Aku seneng ngliko jiwa-jiwa aku mati minongko

nebus tumrepe harga diri deweke

upomo pancen kuwi rego sing kudu dibayar.

Ora ono sawiji sing dadeake aku mbene tingkah koyo iki,

kejobo roso tresno sing uwis nggodo atiku,

menguasai pengrasaku,

ngentekke luhku,

lan bedol roso ngatuk soko mripatku.

Seibo abot roso nang atiku

naliko aku ngerteni musibah sing merusak ummat iki,

sauntoro kito mung sanggup pasrah kahanan,

lan pasrah marang mopo.

Temen aku tumindak mlaku neng dalane Allah

kanggo kemaslahatan kabeh manungso,

lewih akeh tinimbang opo sing tak lakoni

kanggo kepentinganku dewe.

Aku iki nduwekmu wahai sedulur-sedulurku setrisno.

Sedelawae aku ora bakal dadi musuhmu.

(diterjemahkan ke bahasa Jawa oleh

Angyun Abraham, -Direktur Litbang ISMKMI 2011, -Korwil II ISMKMI 2010)

check 3 note berikutnya
#yangmembuatbertahandanberbuatlebihbanyak
dedicated to 6huruf

check 3 note berikutnya

#yangmembuatbertahandanberbuatlebihbanyak

dedicated to 6huruf

mengutip satu kalimat seorang sahabat,
&#8216;aku akan tetap mencintaimu sampai aku tua nanti, bahkan sampai setelah aku mati, ingin engkau selalu hidup #6huruf &#8216;

mengutip satu kalimat seorang sahabat,

‘aku akan tetap mencintaimu sampai aku tua nanti, bahkan sampai setelah aku mati, ingin engkau selalu hidup #6huruf ‘

iheartlove:

lauraface:artpixie:(by cori kindred)

setelah lirik FB, twitter, skype, ym&#160;: Today I choose LOVE.
Mari bernyanyi satu-satu&#8230;


Satu satu aku sayang Allah
Dua dua sayang Rasulullah
Tiga tiga sayang orangtua
Satu dua tiga sayang semuanya.


ehm, versi lengkap
Satu satu aku sayang Allah
Dua dua sayang Rasulullah
Tiga tiga sayang orangtua
Empat empat sayang Indonesia
Lima lima sayang 6huruf
Enam enam sayang 5kota
Tujuh tujuh sayang 4warna
Delapan delapan sayang 3kata
Sembilan sembilan sayang 2nama
Sepuluh sepuluh sayang 1cinta
#sayangsemuanya #galaukabeh

iheartlove:

lauraface:artpixie:(by cori kindred)

setelah lirik FB, twitter, skype, ym : Today I choose LOVE.

Mari bernyanyi satu-satu…

Satu satu aku sayang Allah

Dua dua sayang Rasulullah

Tiga tiga sayang orangtua

Satu dua tiga sayang semuanya.

ehm, versi lengkap

Satu satu aku sayang Allah

Dua dua sayang Rasulullah

Tiga tiga sayang orangtua

Empat empat sayang Indonesia

Lima lima sayang 6huruf

Enam enam sayang 5kota

Tujuh tujuh sayang 4warna

Delapan delapan sayang 3kata

Sembilan sembilan sayang 2nama

Sepuluh sepuluh sayang 1cinta

#sayangsemuanya #galaukabeh

6huruf
nilna | pembelajar | pemimpin | pergerakan | public health | putri | perempuan | nay
Blogs I fallow
I am social