leilockheart: 
well, saya suka ginian pas zaman SMA sambil baca buku kumpulan soal-soal UN dan SPMB. XD

leilockheart

well, saya suka ginian pas zaman SMA sambil baca buku kumpulan soal-soal UN dan SPMB. XD

gardenofmuslim:

Allah is the best and only dependant

gardenofmuslim:

Allah is the best and only dependant

Hey dad look at me
Think back and talk to me
Did I grow up according to plan?
And do you think I’m wasting my time doing things I wanna do?
But it hurts when you disapprove all along

And now I try hard to make it
I just want to make you proud
I’m never gonna be good enough for you
I can’t pretend that
I’m alright
And you can’t change me

‘Cuz we lost it all 
Nothing lasts forever
I’m sorry 
I can’t be perfect
Now it’s just too late and 
We can’t go back
I’m sorry 
I can’t be perfect

I try not to think
About the pain I feel inside
Did you know you used to be my hero?
All the days you spent with me
Now seem so far away
And it feels like you don’t care anymore

And now I try hard to make it 
I just want to make you proud 
I’m never gonna be good enough for you
I can’t stand another fight
And nothing’s alright

‘Cuz we lost it all 
Nothing lasts forever
I’m sorry 
I can’t be perfect
Now it’s just too late and 
We can’t go back
I’m sorry 
I can’t be perfect

Nothing’s gonna change the things that you said
Nothing’s gonna make this right again
Please don’t turn your back
I can’t believe it’s hard
Just to talk to you
But you don’t understand

‘Cuz we lost it all 
Nothing lasts forever
I’m sorry 
I can’t be perfect
Now it’s just too late and 
We can’t go back
I’m sorry 
I can’t be perfect

‘Cuz we lost it all 
Nothing lasts forever
I’m sorry 
I can’t be perfect
Now it’s just too late and 
We can’t go back
I’m sorry 
I can’t be perfect

Lagu ini jaya sekali di masa-masa HIMA. ^^. Saya suka. Apalagi jika dinyanyikan akustik oleh anak-anak. Love it. Maknanya juga sangat dalam. 

Apapun yang terjadi

Ku kan slalu ada untukmu

Janganlah kau bersedih

Cause everything gonna be Oke..

-sangat setia- :’)

Tadi pagi sarapan + buka puasa Idul Adha pakai ini.
Lontong Pical. Menu sarapan favorit. ^^
Pical ini tidak ada bedanya dengan pecal khas Jawa. Yang unik, selain memakai sayuran seperti kol, kangkung, timun, dan tauge, Pical khas Padang juga memakai mi. Pedas. Dan biasanya kuah kacangnya dicampur sama cabe rawit halus.
Hati-hati kalau nggak biasa, ntar mules. Hehe.

Tadi pagi sarapan + buka puasa Idul Adha pakai ini.

Lontong Pical. Menu sarapan favorit. ^^

Pical ini tidak ada bedanya dengan pecal khas Jawa. Yang unik, selain memakai sayuran seperti kol, kangkung, timun, dan tauge, Pical khas Padang juga memakai mi. Pedas. Dan biasanya kuah kacangnya dicampur sama cabe rawit halus.

Hati-hati kalau nggak biasa, ntar mules. Hehe.

Well, saat ke MPR Juli 2011 lalu bersama Fathinah dan Angyun Abraham, saya menemukan Lapangan Tembak Senayan asli (coz selama ini kan cuma tahu cabangnya). Itupun liatnya dalam keadaan tertutup sekitar jam 1 malam. Heheh. Gag penting banget. Tapi selama di Padang saya sempat penasaran. Pinter banget ya ini si Bakso Lapangan Tembak Senayan yang bisa buka cabang sampai kemana-mana.. Hehe.

Well, saat ke MPR Juli 2011 lalu bersama Fathinah dan Angyun Abraham, saya menemukan Lapangan Tembak Senayan asli (coz selama ini kan cuma tahu cabangnya). Itupun liatnya dalam keadaan tertutup sekitar jam 1 malam. Heheh. Gag penting banget. Tapi selama di Padang saya sempat penasaran. Pinter banget ya ini si Bakso Lapangan Tembak Senayan yang bisa buka cabang sampai kemana-mana.. Hehe.

Ke Kemendiknas, tepatnya ke DIKTI sekitar bulan Juli 2011. Membawa sebundel berkas ISMKMI bersama Hap2. Ke lantai 7. Ketemu Direkturnya dan mendapat kabar bahwa untuk bundelan yang saya bawa ini harus ada tanda tangan rektor dulu. Dan sekarang rektornya ada di Kemendiknas… Hehe… :P Yaah, saya masih harus memperjuangkan bundelan ini setelah beberapa kali ganti rektor sejak Maret sampai September 2011 ini. Hehey…. Maaf, jika ada keterlambatan terhadap yang diurus ini. Semoga bisa dipahami. Aamiin.

Ke Kemendiknas, tepatnya ke DIKTI sekitar bulan Juli 2011. Membawa sebundel berkas ISMKMI bersama Hap2. Ke lantai 7. Ketemu Direkturnya dan mendapat kabar bahwa untuk bundelan yang saya bawa ini harus ada tanda tangan rektor dulu. Dan sekarang rektornya ada di Kemendiknas… Hehe… :P Yaah, saya masih harus memperjuangkan bundelan ini setelah beberapa kali ganti rektor sejak Maret sampai September 2011 ini. Hehey…. Maaf, jika ada keterlambatan terhadap yang diurus ini. Semoga bisa dipahami. Aamiin.

Patung Pemuda Membangun yang terletak di bundaran air mancur Senayan. Patung Pemuda Membangun ini menggambarkan seorang pemuda dengan semangat menyala-nyala membawa obor. Dari jauh patung ini terlihat hampir tidak berbusana, namun justru inilah yang ditonjolkan yaitu ekspresi gerak dari tokoh pemuda yang ditekankan sehingga nampak nyata guratan-guratan urat daging sang pemuda. Makna obor di atas adalah sebagai alat penerang dan artinya secara filosofis adalah untuk menerangi hati yang gelap. 
Patung Pemuda Membangun ditempatkan di lokasi ini berdasarkan alasan praktis dan strategis. Praktis karena tempatnya luas cukup memenuhi persyaratan untuk penempatan patung yang besar, strategis karena tempat ini merupakan titik pertemuan dari dan ke segenap penjuru kawasan dan dekat dari kompleks olahraga Senayan serta tidak jauh dari Gedung DPR/ MPR.
source : http://ariesaksono.wordpress.com

Patung Pemuda Membangun yang terletak di bundaran air mancur Senayan. Patung Pemuda Membangun ini menggambarkan seorang pemuda dengan semangat menyala-nyala membawa obor. Dari jauh patung ini terlihat hampir tidak berbusana, namun justru inilah yang ditonjolkan yaitu ekspresi gerak dari tokoh pemuda yang ditekankan sehingga nampak nyata guratan-guratan urat daging sang pemuda. Makna obor di atas adalah sebagai alat penerang dan artinya secara filosofis adalah untuk menerangi hati yang gelap. 

Patung Pemuda Membangun ditempatkan di lokasi ini berdasarkan alasan praktis dan strategis. Praktis karena tempatnya luas cukup memenuhi persyaratan untuk penempatan patung yang besar, strategis karena tempat ini merupakan titik pertemuan dari dan ke segenap penjuru kawasan dan dekat dari kompleks olahraga Senayan serta tidak jauh dari Gedung DPR/ MPR.

source : http://ariesaksono.wordpress.com

STADION UTAMA GELORA BUNG KARNO (Istora Senayan)
Gelora Bung Karno dibangun berawal dari Presiden Soekarno dalam menyambut peluang dengan menawarkan Indonesia sebagai tuan rumah perhelatan pesta olahraga akbar di Asia, Asian Games ke-IV. Setelah disetujui, beliau langsung memerintahkan para bawahannya untuk segera merancang suatu kompleks pusat olahraga modern dan terlengkap sekaligus sebagai taman public dan ruang terbuka hijau. Pembangunan ini mengorbankan 4 desa dengan lebih 60.000 penduduk yang harus hengkang dari kampung halamannya.
Pengelola stadion ini adalah Yayasan Gelora Bung Karno, yang hingga saat ini masih dipercaya sebagai operator kompleks Gelanggang Olahraga Bung Karno. Pada era Yayasan Gelanggang Olahraga Senayan ini, terjadi banyak penyimpangan sehingga kawasan Geloran Bung Karno yang semula luasnya 279,1 hektar ini telah menyusut hingga tinggal 136,84 hektar ( 49 % ) saja. Dari jumlah yang 51 % itu, 67,52 hektar atau sekitar 24,2 % dari luas semula digunakan untuk berbagai bangunan pemerintah seperti gedung MPR/DPR, Kantor Departemen Kehutanan, Kantor Departemen Pendidikan Nasional, Gedung TVRI, Graha Pemuda, Kantor Keluragan Gelora, SMU Negeri 24, Puskesmas, dan rumah makan. Sisanya, yang 26,7 % atau 74,4 hektar disewakan atau dijual untuk berbagai bangunan seperti misalnya kepada Hotel Hilton, kompleks perdagangan Ratu Plaza, Hotel Mulia, Hotel Atlet Century Park (dahulu Wisma Atlet Senayan), Taman Ria Remaja Senayan, Wisma Fairbanks, Plaza Senayan dan berbagai bangunan komersial lainnya.
Meski GBK kemudian “dikepung” berbagai gedung yang bukan untuk olahraga, fungsinya sebagai ruang terbuka hijau tetap dipertahankan.Melalui kerja sama dengan Pemda DKI Jakarta disusun Rencana Induk Kawasan Gelora Senayan yang menetapkan Koefisien Dasar Bangunan maksimum 20 persen.Ini berarti 80 persen dari luas kawasan dipertahankan tetap terbuka.Ruang terbuka itu kemudian menjadi 84 persen setelah peningkatan dan penataan Parkir Timur menjadi Taman Parkir, pembangunan gerbang di Plasa Selatan (menghadap ke Jalan Jenderal Sudirman), dan penggantian pagar lingkungan pada pertengahan 2004. Dan Sampai saat ini SUGBK dipakai Oleh Indonesia, PSSI, Timnas Indonesia, Liga Indonesia, dan Tim Persija Jakarta
GBK juga menjadi saksi sejarah “sangat nasionalisnya” warga negara yang terbukti dengan segala keramaian, keriuhan, dan kericuhan apabila Timnas Indonesia berlaga dengan negara lain. Betapa “demi negara” bangsa ini melakukan apa saja sehingga kadang-kadang lupa bahwa mereka juga harus menjaga nama baik bangsa, demi negara.
source : http://www.hariansobek.com/2011/09/asal-usul-sejarah-gelora-bung-karno.html dengan tambahan opini pribadi
Timnas Indonesia

Suporter Indonesia

STADION UTAMA GELORA BUNG KARNO (Istora Senayan)

Gelora Bung Karno dibangun berawal dari Presiden Soekarno dalam menyambut peluang dengan menawarkan Indonesia sebagai tuan rumah perhelatan pesta olahraga akbar di Asia, Asian Games ke-IV. Setelah disetujui, beliau langsung memerintahkan para bawahannya untuk segera merancang suatu kompleks pusat olahraga modern dan terlengkap sekaligus sebagai taman public dan ruang terbuka hijau. Pembangunan ini mengorbankan 4 desa dengan lebih 60.000 penduduk yang harus hengkang dari kampung halamannya.

Pengelola stadion ini adalah Yayasan Gelora Bung Karno, yang hingga saat ini masih dipercaya sebagai operator kompleks Gelanggang Olahraga Bung Karno. Pada era Yayasan Gelanggang Olahraga Senayan ini, terjadi banyak penyimpangan sehingga kawasan Geloran Bung Karno yang semula luasnya 279,1 hektar ini telah menyusut hingga tinggal 136,84 hektar ( 49 % ) saja. Dari jumlah yang 51 % itu, 67,52 hektar atau sekitar 24,2 % dari luas semula digunakan untuk berbagai bangunan pemerintah seperti gedung MPR/DPR, Kantor Departemen Kehutanan, Kantor Departemen Pendidikan Nasional, Gedung TVRI, Graha Pemuda, Kantor Keluragan Gelora, SMU Negeri 24, Puskesmas, dan rumah makan. Sisanya, yang 26,7 % atau 74,4 hektar disewakan atau dijual untuk berbagai bangunan seperti misalnya kepada Hotel Hilton, kompleks perdagangan Ratu Plaza, Hotel Mulia, Hotel Atlet Century Park (dahulu Wisma Atlet Senayan), Taman Ria Remaja Senayan, Wisma Fairbanks, Plaza Senayan dan berbagai bangunan komersial lainnya.

Meski GBK kemudian “dikepung” berbagai gedung yang bukan untuk olahraga, fungsinya sebagai ruang terbuka hijau tetap dipertahankan.
Melalui kerja sama dengan Pemda DKI Jakarta disusun Rencana Induk Kawasan Gelora Senayan yang menetapkan Koefisien Dasar Bangunan maksimum 20 persen.
Ini berarti 80 persen dari luas kawasan dipertahankan tetap terbuka.
Ruang terbuka itu kemudian menjadi 84 persen setelah peningkatan dan penataan Parkir Timur menjadi Taman Parkir, pembangunan gerbang di Plasa Selatan (menghadap ke Jalan Jenderal Sudirman), dan penggantian pagar lingkungan pada pertengahan 2004. 
Dan Sampai saat ini SUGBK dipakai Oleh Indonesia, PSSI, Timnas Indonesia, Liga Indonesia, dan Tim Persija Jakarta

GBK juga menjadi saksi sejarah “sangat nasionalisnya” warga negara yang terbukti dengan segala keramaian, keriuhan, dan kericuhan apabila Timnas Indonesia berlaga dengan negara lain. Betapa “demi negara” bangsa ini melakukan apa saja sehingga kadang-kadang lupa bahwa mereka juga harus menjaga nama baik bangsa, demi negara.

source : http://www.hariansobek.com/2011/09/asal-usul-sejarah-gelora-bung-karno.html dengan tambahan opini pribadi

Timnas Indonesia

Suporter Indonesia

 
GEDUNG MPR
Kini lebih dari setengah abad gedung itu berdiri. Andai saja ia bisa bercerita tentu akan ia ceritakan betapa banyak peristiwa yang sudah dialaminya. Ia akan bercerita tentang cita-cita besar Soekarno. Tentang harapan Putra Sang  Fajar itu menjadikan Indonesia dengan jumlah penduduknya 105 juta -kala itu- sebagai salah satu kekuatan besar dunia. Tentang ambisi-ambisinya, tentang tragedi-tragedi yang disaksikannya.
Seiring waktu ada kisah tentang mahasiswa dalam arus reformasi yang mendudukinya dan memaksa Soeharto turun dari singgasana. Juga tentang pernik gegap gempita reformasi, mulai dari ceceran alat kontrasepsi sampai berton-ton sampah yang dihasilkan seiring gerakan reformasi yang menjadikan penguasaan gedung ini sebagai simbolnya.
Tentang kisah Habibie yang mampu berdiri berjam-jam dalam pidatonya dengan mata bola ping pong.  Ia juga akan bercerita tentang pertarungan Amien Rais, Megawati dan Gus Dur ketika duduk di kursi tertinggi di negeri ini. Tak ketinggalan tentang peristiwa pidato jawaban interpelasi, Buloggate, Bruneigate, Aryantigate  sampai Gus Dur yang sering jatuh tertidur di kursi megah di depan ratusan anggota sidang.
Dinding-dinding bangunan ini menyimpan rapi apa saja hasil lobby dari Century Gate, deal-deal politik, siapa saja yang terlibat, siapa yang ikut rapat atau siapa yang tertidur dengan mata lekat.
Naik dan turunnya kekuasaan, juga tersimpan rapi di dalam gedung ini. Dan juga, tentu saja Mbakyu Megawati yang harus turun setelah kalah dari pria yang dipilih ibu-ibu karena penampilannya yang gagah, pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Atau juga tentang Jusuf Kalla yang ditinggalkan pasangan, karena dianggap terlalu lincah dan menyaingi pamor besar pimpinan negara.
Tembok-tembok gedung ini menyiman beratus, bahkan berjuta kisah tentang lobby, perjanjian-perjanjian tersembunyi, dan juga mungkin pengkhianatan pada hati nurani rakyat negeri ini. Tapi sayang ia tak bisa menceritakan sejarah yang dilaluinya pada orang-orang kini agar tak mengulangi kesalahan pemimpin negeri.
source : http://penerang.com/2011/03/31/sejarah-megalomania-gedung-mpr-%E2%80%93-dpr/

GEDUNG MPR

Kini lebih dari setengah abad gedung itu berdiri. Andai saja ia bisa bercerita tentu akan ia ceritakan betapa banyak peristiwa yang sudah dialaminya. Ia akan bercerita tentang cita-cita besar Soekarno. Tentang harapan Putra Sang  Fajar itu menjadikan Indonesia dengan jumlah penduduknya 105 juta -kala itu- sebagai salah satu kekuatan besar dunia. Tentang ambisi-ambisinya, tentang tragedi-tragedi yang disaksikannya.

Seiring waktu ada kisah tentang mahasiswa dalam arus reformasi yang mendudukinya dan memaksa Soeharto turun dari singgasana. Juga tentang pernik gegap gempita reformasi, mulai dari ceceran alat kontrasepsi sampai berton-ton sampah yang dihasilkan seiring gerakan reformasi yang menjadikan penguasaan gedung ini sebagai simbolnya.

Tentang kisah Habibie yang mampu berdiri berjam-jam dalam pidatonya dengan mata bola ping pong.  Ia juga akan bercerita tentang pertarungan Amien Rais, Megawati dan Gus Dur ketika duduk di kursi tertinggi di negeri ini. Tak ketinggalan tentang peristiwa pidato jawaban interpelasi, Buloggate, Bruneigate, Aryantigate  sampai Gus Dur yang sering jatuh tertidur di kursi megah di depan ratusan anggota sidang.

Dinding-dinding bangunan ini menyimpan rapi apa saja hasil lobby dari Century Gate, deal-deal politik, siapa saja yang terlibat, siapa yang ikut rapat atau siapa yang tertidur dengan mata lekat.

Naik dan turunnya kekuasaan, juga tersimpan rapi di dalam gedung ini. Dan juga, tentu saja Mbakyu Megawati yang harus turun setelah kalah dari pria yang dipilih ibu-ibu karena penampilannya yang gagah, pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Atau juga tentang Jusuf Kalla yang ditinggalkan pasangan, karena dianggap terlalu lincah dan menyaingi pamor besar pimpinan negara.

Tembok-tembok gedung ini menyiman beratus, bahkan berjuta kisah tentang lobby, perjanjian-perjanjian tersembunyi, dan juga mungkin pengkhianatan pada hati nurani rakyat negeri ini. Tapi sayang ia tak bisa menceritakan sejarah yang dilaluinya pada orang-orang kini agar tak mengulangi kesalahan pemimpin negeri.


source : http://penerang.com/2011/03/31/sejarah-megalomania-gedung-mpr-%E2%80%93-dpr/

let’s talk about senayan

Ada apa di senayan? Ada banyak. :D Belakangan saya suka menyebut senayan dalam status twitter dan FB. Entah kenapa? Entah. Suka aja.

Karena di senayan pernah ada ribuan mahasiswa seperti segerombolan tawon menuntut “kebebasan”. Tidak hanya pernah tapi selalu dan akan. Karena di senayan ada Gelora Bung Karno yang setiap ada pertandingan akan ramai, riuh, dan ricuh. Tidak hanya oleh pemain tapi juga oleh pedagang, dan terutama oleh supporter. Karena di Senayan ada Kemendiknas sekaligus DIKTI. Tidak hanya karena saya akan sering berurusan kesana tapi juga karena “Ayah” ada disana.. hehe (Lirik Pak Mus). Karena di senayan ada Patung Pemuda Membangun yang besar dan membakar. Tidak hanya disebut Patung Pemuda Membangun tapi juga Patung Pizza-Man karena seperti orang membawa pizza (ah, orang iseng saja itu). Karena di senayan ada Bakso Lapangan Tembak Senayan, saya suka cabangnya yang ada di Padang, dulunya di Plaza Andalas, tapi sejak terbakar saat Gempa Sumbar 2009, tempatnya pindah, dan saya mulai tidak suka.

Sekian tentang senayan.

colored pencils

colored pencils

 Sajak Sebatang Lisong

menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka

matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak – kanak
tanpa pendidikan

aku bertanya
tetapi pertanyaan – pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis – papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan

delapan juta kanak – kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
……………………..

menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana – sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan

dan di langit
para teknokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

gunung – gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes – protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam

aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair – penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak – kanak tanpa pendidikan
termangu – mangu di kaki dewi kesenian

bunga – bunga bangsa tahun depan
berkunang – kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta – juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
……………………………

kita mesti berhenti membeli rumus – rumus asing
diktat – diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa – desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata

inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan

kepadamu aku bertanya

RENDRA
( ITB BANDUNG – 19 agustus 1978 )

Inilah karya WS. Rendra. Dibacakan di Kampus ITB tahun 1977. Sebuah puisi yang saat itu DILARANG dibacakan oleh Pemerintah Orde Baru. Sebuah potret pembangunan dalam sebentuk puisi. 

tentang suara, tentang pandangan, tentang pikir, tentang hati
saatnya kegilaan menjadi kewajaran.
6huruf
nilna | pembelajar | pemimpin | pergerakan | public health | putri | perempuan | nay
Blogs I fallow
I am social